Bukan hal yang asing jika kita, sebagai orang Indonesia, menikmati dan menggunakan produk hasil kreasi dari berbagai macam UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang ada. Dibandrol dengan harga yang tidak terlalu tinggi namun memiliki kualitas yang baik menjadikan UMKM mampu bersaing dengan bisnis lainnya. Indonesia yang didominasi oleh penduduk dengan tingkat ekonomi menengah tentu saja menjadi faktor kuat mengapa semakin hari perkembangan UMKM semakin marak di pasaran. Bertujuan untuk mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari tentu saja menjadi salah satu visi dan misi dari para UMKM ini.  Adapun jenis produk yang dipasarkan oleh para UMKM ini tentu saja beragam, dari mulai makanan hingga sepatu pun ada. Dikategorikan ke dalam SME (Small Medium Enterprise) tentu saja menjadikan UMKM belum se-‘hebat’ bisnis lainnya yang sudah besar. Bahkan jika kita selidiki lebih jauh, masih banyak UMKM yang belum memiliki toko atau tempat sendiri untuk mereka memasarkan produknya. Namun tidak ada yang salah dari tidak memiliki toko sendiri, karena mereka dapat memasarkan produknya secara online melalui berbagai macam market place yang sesuai dengan jenis produknya masing-masing.

Seiring dengan berkembangnya teknologi digital, seharusnya keberadaan UMKM pun dapat semakin berkembang dengan memanfaatkan teknologi digital, baik itu dalam hal memasarkan produknya atau menunjang kegiatan sehari-hari. Akan tetapi, ternyata masih banyak pelaku UMKM yang tidak atau belum menyadari bagaimana memberdayakan teknologi digital yang efektif dan dapat mendatangkan keuntungan bagi mereka. Hal ini dibuktikan dengan survey yang dilakukan oleh SME Magazine bahwa hamper setiap UKM yang disurvei menyadari pentingnya strategi digital, tetapi banyak yang tidak memiliki sumber daya atau kemampuan untuk mengimplementasikannya.

Proses produksi yang dilakukan oleh UMKM tentu tidak akan jauh dari proses pengiriman dan pengantaran barang, baik itu menggunakan kendaraan roda dua, roda empat atau pun lebih. Karena dikategorikan sebagai SME Business, tentu saja para pihak UMKM haruslah dapat memutar keuangan secara baik, termasuk di dalamnya mengurangi dan menekan serendah mungkin terhadap biaya operasional. Proses pengantaran dan pengiriman barang yang sudah disebutkan sebelumnya tentu saja akan menguras cukup biaya, terutama untuk kendaraannya. Bahan bakar, perawatan dan juga supir, tentu memiliki biayanya masing-masing yang tidak dapat dihindari, namun dapat diminimalisir, yaitu dengan cara melakukan kegiatan pengiriman dan pengantaran dengan seefektif mungkin. Kendaraan yang sudah disiapkan untuk melakukan kedua hal tersebut harus digunakan seefektif mungkin sesuai dengan mestinya. Para supir yang ada pun harus mengendarai kendaraan sebagaimana mestinya, dengan tanpa mengabaikan kejadian-kejadian buruk yang mungkin terjadi. Kehadiran teknologi yang kini menyebar rata hampir ke seluruh bidang, tentu saja dapat mengatasi dan mewujudkan keefektifan tersebut.

Fleet Management System atau yang dikenal dengan sebutan sistem manajemen armada, dipercaya mampu meningkatkan keefektifan proses pengiriman dan pengantaran, dan yang paling utama, mampu memberikan dampak positif berupa penurunan biaya operasional. Mampu melacak posisi kendaraan serta memonitor bagaimana supir berkendara, akan menjadikan kegiatan pengiriman dan pengantaran barang menjadi lebih efektif dibanding sebelumnya. Berawal dari hanya mampu mengantar barang sebanyak 3 kali, akan berubah menjadi 6 kali dalam seharinya, berkat sistem canggih seperti ini. Kita dapat mengamati dan menganalisis hasil laju kendaraan dalam sehari yang dapat dimaksimalkan ke dalam penggunaan kendaraan itu sendiri. Resiko kecelakaan pun akan menipis karena dapat memantau cara kerja supir saat berkendara. lacak.io sebagai perusahaan yang bergerak di bidang Informasi dan Teknologi pun hadir dengan Fleet Management System sebagai produk utamanya. Memiliki visi dan misi dalam membantu perusahaan-perusahaan untuk mulai merubah sistem manajemen armada mereka, yang asalnya tradisional menjadi berbasis digital.