Bagaimana Dunia Kerja Setelah Pandemi?

Dunia Perkantoran

Bagaimana Dunia Kerja Setelah Pandemi?

Dunia Perkantoran
Dunia Perkantoran. Sumber Foto: Suara.com

Penelitian dari SHRM (Society of Human Resource Management) menunjukkan setidaknya 27% perusahaan berencana untuk mempekerjakan seluruh karyawannya di kantor fisik ketika vaksin Covid-19 sudah menyebar secara meluas, dan 34% perusahaan masih belum yakin kapan mereka akan mempekerjakan kembali seluruh karyawannya di kantor fisik. Hanya 18% perusahaan yang tidak berencana mempekerjakan seluruh karyawannya di kantor fisik.

Dilansir dari Connectedworld.com, kemungkinan terbesar adalah akan ada beberapa bentuk model kerja hybrid, di mana para karyawan diharapkan tetap berada di kantor setidaknya untuk beberapa waktu dan bekerja dari jarak jauh pada waktu-waktu lain

Dengan wacana kembalinya dunia kerja menjadi tatap muka dalam waktu dekat, mari kita lihat lebih jauh bagaimana dunia pekerjaan perlu menyesuaikan diri, dan lingkup dunia kerja seperti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang setelah Covid-19 benar-benar berakhir.

Kita memang disarankan perlu bersiap dengan dunia hybrid—setidaknya dalam waktu dekat. Rachael McCann, direktur senior, kesehatan dan tunjangan di Willis Towers Watson, mengatakan bahwa temuan SHRM sejalan dengan penelitian perusahaannya, yang menemukan bahwa 59% karyawan memiliki preferensi untuk sistem hybrid atau jarak jauh. Sementara itu, sisanya memilih untuk bekerja setidaknya tiga hari seminggu di kantor dan selebihnya dari jarak jauh.

Apa yang diperlukan untuk dapat kembali bekerja di kantor fisik?

Hal yang pertama perlu dilakukan adalah fokus pada budaya perusahaan terlebih dahulu. Sebagai atasan, Anda perlu memiliki struktur komunikasi terbuka: memastikan semua karyawan dapat menyuarakan kekhawatiran mereka mengenai transisi untuk kembali kerja di kantor.

Selanjutnya, batasi jumlah orang yang berinteraksi bersama. Pastikan jika satu orang di perusahaan Anda perlu dikarantina, seluruh tim Anda tidak perlu melakukan hal yang sama. Jaga rapat tetap kecil, setidaknya di awal. Selain itu, pertimbangkan untuk membatasi lamanya waktu orang berinteraksi satu sama lain.

Lebih jauh lagi, pemanfaatan teknologi leverage IoT (Internet of Things), AI (kecerdasan buatan), digital twin, dan banyak lagi. Semuanya ini akan mendorong industri di era pasca Covid-19. Teknologi akan sangat penting untuk mendapatkan keunggulan kompetitif, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih baik, dan menjadi lebih tangguh. Otomatisasi dapat membantu membatasi jumlah orang yang berkumpul di lokasi tertentu.

Mungkin salah satu perubahan terbesar yang akan kita lihat dalam beberapa bulan—dan di tahun-tahun mendatang—adalah tata ruang atau desain interior perkantoran. Industri desain dan konstruksi mulai memperbincangkan tentang bagaimana kantor, sekolah, perpustakaan, dan interior serta ruang eksterior lainnya dari sebuah bangunan akan dibangun menjadi lingkungan kerja yang lebih aman dan nyaman.

Banyak perusahaan arsitektur menyarankan desain memiliki fokus pada ruang kontak terbatas dan desain yang lebih baik untuk ruang rapat, dapur, ruang istirahat, dan bahkan jalur menuju lokasi ruang rapat.

Teknologi harus berperan lebih aktif di dalamnya, dengan tujuan untuk membuat bangunan yang lebih sehat. Bangunan yang sehat dapat meningkatkan mood, mencegah penyakit, dan meningkatkan produktivitas.

Sebuah bangunan dianggap sehat tergantung pada bagaimana ukurannya terhadap standar industri dalam sembilan kategori berbeda, yaitu: ventilasi, kelembaban, pencahayaan dan pemandangan, debu dan hama, kesehatan termal, kualitas air, kualitas udara, keselamatan dan keamanan, dan kebisingan. Salah satu cara utama menyehatkan bangunan adalah melalui sistem ventilasi yang dapat mengurangi patogen yang terbawa udara hingga 80%.

Tentu saja, perubahan pada bangunan dan desain membutuhkan waktu untuk diterapkan sepenuhnya, tetapi ketika dunia kerja sudah kembali ke kantor fisik, hal itu akan terlihat berbeda dari yang terjadi di tahun lalu.

 

 

Share this article